Cerita Mami Kenzie & Keana

Sharing is Caring!
Uncategorized

Sekolah Bagi Balita

December 4, 2013
Sekarang banyak banget anak balita yang sudah sekolah. Padahal umurnya baru 1 tahun tapi udah disekolahin sama orang tuanya. Awalnya sih saya pikir “Ah Kenzie mah ga usah ikut-ikutan sekolah dari kecil kaya gitu . Kasian ah udah harus belajar. Nanti ajalah sekolahnya dari TK kecil.” Tapiii sekarang kok saya malah jadi pengen masukin Kenzie ke pre-school tau PAUD ya? Kenapa? Soalnya Kenzie lebih banyak di rumah. Disini temennya sedikit dan jarang main juga. Akibatnya Kenzie kurang bermain di luar, jadi manja apa-apa maunya sama mami, jadi agak penakut juga. Kenzie ga suka manjat-manjat atau lari-larian. Saya pikir itu semua karena dia lebih sering main di dalam rumah. Kalau dia sekolah, dia bisa main dengan teman sebayanya, belajar bersosialisasi, belajar berbagi, dan belajar disiplin.
Nah, kebetulan banget tadi di twitter @mommiesdaily share artikel tentang “Seberapa Penting Sekolah Bagi Balita”. Ini kutipan yang saya ambil:

Nah, balik lagi ke pertanyaan, penting nggak sih Pendidikan Anak Usia Dini? Berikut penjabarannya:

Masa yang paling baik untuk memberikan stimulasi adalah saat anak berada pada masa usia dini. Tidak hanya dari sisi intelektualnya, namun juga terkait dengan aspek pengembangan kepribadian, yaitu sosial emosi. Di usia golden age (0-6 tahun), adalah usia yang paling kritis sekaligus paling pendek di antara tahapan perkembangan lainnya. Nah untuk itu di usia ini, anak memang harus betul-betul diberikan stimulus yang optimal. Menurut salah satu penelitian, dikatakan bahwa kapasitas intelektual terbentuk dengan sangat optimal ketika anak berada di usia 4 tahun, selebihnya ketika anak berada di usia sekolah dan hanya 2% saja yang berkembang sampai usia 18 tahun.

Memasukkan anak-anak ke PAUD di zaman serba informatif seperti ini sekarang, memang menjadi salah satu alternatif pendidikan yang bisa membantu tumbuh kembang anak, tetapi bukanlah menjadi hal yang mutlak.

Ada beberapa keuntungan bagi anak-anak usia toddler atau playgroup yang mengikuti kegiatan belajar di lembaga informal antara lain

  1. Anak belajar mengenal lingkungan sosial yang lebih luas dibandingkan jika berada di rumah terus menerus.
  2. Anak belajar bekerja sama dengan teman sebaya ataupun figur orang dewasa lain.
  3. Anak belajar patuh terhadap aturan.
  4. Anak juga banyak belajar mengenai kemandirian dan bantu diri.
  5. Anak dapat mengembangkan perasaan supportivitas atau kompetisi sejak dini.
  6. Anak juga dipastikan akan belajar mengenai bersabar, menunggu giliran, berbagi dengan teman.

Sebaliknya, memasukkan anak ke pendidikan informal PAUD juga dapat memberikan pengaruh yang negatif pada perkembangan psikologisnya jika :

  1. Orangtua terlalu memaksakan anak, sementara mental anak belum siap untuk menghadapi tuntutan sekolah sehingga umumnya akan muncul masalah emosi. Hal ini biasanya terjadi, jika orangtua kurang melatih kemandirian anak dirumah, sehingga berharap sekolah informal yang akan terus menerus membantu. Padahal yang namanya kemandirian, harus dillatih pula dirumah. Seperti toilet training.
  2. Anak memiliki pola tidur yang kurang teratur, sehingga seringkali pagi hari anak menjadi rewel karena masih mengantuk atau lelah, Akibatnya seringkali orangtua tidak sabaran dan marah menghadapi perilaku anak yang rewel.
  3. Orangtua yang melakukan ancaman pada anak, jika anak sedang tidak mood untuk berangkat sekolah. Namanya juga anak-anak ya, anytime bisa aja jadi gak mood dan rewel. Padahal, anak seharusnya diberikan informasi yang positif mengenai sekolah infomalnya seperti menceritakan hal-hal menyenangkan yang akan ia lakukan di sekolah.
  4. Orangtua yang menuntut anak untuk selalu sempurna di sekolah informalnya, padahal setiap anak memiliki skill atau perkembangan mental yang berbeda-beda. Akibatnya anak menjadi rewel tiap kali berangkat sekolah.

Yang paling penting lagi adalah kesinambungan antara lingkungan rumah dan sekolah informalnya, sehingga anak mendapatkan stimulasi yang optimal. Jika ternyata di rumah anak sudah mendapatkan stimulasi yang optimal baik yang terkait dengan perkembangan intelektual, kemandirian, maka orangtua dapat menjadikan sekolah informal sebagai sarana anak belajar berinteraksi.

Carilah sekolah informal PAUD, yang memiliki jam belajar tidak terlalu panjang, beberapa sekolah informal memberikan jam kegiatan hanya sekitar 1-2,5 jam dengan jadual 2 atau 3 kali dalam seminggu terutama untuk anak-anak usia toddler dan playgroup. Sementara untuk anak usia prasekolah 4-6, rata-rata jam kegiatan 3,5-4 jam. Setelah itu, anak memang tidak dianjurkan untuk mengikuti banyak kegiatan les-les, karena mereka masih memiliki kebutuhan untuk bermain dan istirahat di rumah.

Artikel lengkap bisa dilihat di sini .

Informatif! Jadi ada gambaran untuk memasukkan Kenzie ke PAUD atau tidak. Rencananya kalau tidak ada halangan kami akan pindah ke rumah baru akhir tahun ini. Kelihatannya sih lingkungannya masih sepi . Kalau memang Kenzie ga ada teman mainnya, lebih baik dimasukkan ke PAUD, biar dia bisa punya teman dan bersosialisasi.

Apalagi Kenzie sekarang lagi seneng menggambar, berhitung, dan nyanyi. Walopun ngomongnya belum jelas dia. Tapi sudah sangat bagus. Bisa menghitung 1-10 walo cuma ujungnya aja. “Tu Wa Ga Pat Ma Nam Ju Pan Lan Tuh”. Oh iya kemarin saya kaget banget pas lagi nonton In The Night Garden kan lagi ngitung balok pake Bahasa Inggris, eeeh Kenzie ngikutin. Dia bisa ngitung sampe 5 “Wa Tu Ti Poh Pif” Hahahaha. Pinter dan lucu. Kalau di sekolah kan dia lebih banyak belajarnya ya. Hmmm.. Jadi makin kepengen masukin Kenzie sekolah nih. Hihihi.

Mulai cari tahu dulu PAUD atau pre-school yang lokasinya gak jauh dari rumah dan biayanya terjangkau. Trus langsung diskusi deh dengan papi.

Mama-mama yang lain gimana nih ada yang masukin anaknya ke pre-school? Mau infonya dooong hehehe. Kalau ada yang tinggal di Bogor daerah Jalan Baru mau banget infonya 😀

Kalau Kenzie jadi sekolah, nanti saya cerita lagi yaaa ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *