Uncategorized

Kenzie di Fototerapi untuk Ketiga Kalinya

By on March 24, 2012
Sabtu tanggal 17 Maret 2012 kemarin, jadwal Kenzie imunisasi BCG. Jadi, papi, mami, dan Kenzie pergi ke RS. Tapi, dokter yang kita tuju lagi cuti, akhirnya ganti dokter karena niatnya imuniasi.
Begitu masuk ruangan, dokter langsung memeriksa Kenzie. Dokter bilang harus cek darah lagi, karena kuningnya masih terlihat. Akhirnya Kenzie diambil darah untuk kesekian kalinya. Gak tega rasanya liat anak ditusuk jarum kaya gitu. Saya aja yang sudah dewasa selalu merasa kesakitan ketika diambil darah, bagaimana dengan anak bayi.
Setelah hasil tes darah datang, saya melihat nilai bilirubin Kenzie. Bilirubin totalnya 18,5.. Jumlah yang cukup tinggi. Beda satu angka dari tes darah saat Kenzie berusia 7 hari. Dilihat dari hasil tersebut, Kenzie harus disinar biru (fototerapi) lagi. Kali ini double sinar. Penyinaran dilakukan selama 24 jam. Sediiiiih sekali. Untuk ketiga kalinya Kenzie harus di fototerapi. Untuk ketiga kalinya saya harus meninggalkan Kenzie di rumah sakit. Tapi saya harus kuat, saya ga boleh sedih, ini yang terbaik buat Kenzie agar bilirubinnya turun.

Fototerapi yang ketiga kalinya

Setelah 24 jam disinar, Kenzie lagi-lagi diambil darahnya untuk mengetahui jumlah bilirubinnya. Alhamdulillah bilirubinnya sudah normal. Jumlahnya 9,6. Akhirnya Kenzie diizinkan untuk pulang. 
Kulit Kenzie terlihat menghitam, mungkin itu efek dari sinar double yang panas. Gak tega lihat kulitnya yang seperti itu. Sekarang kulit Kenzie sudah kembali ke warna asal.
Sayangnya, kami tidak bisa bertemu dengan dokter yang menangani Kenzie karena pulang pada malam hari. Jadi, kami belum tahu diagnosa dokter mengenai bilirubin Kenzie yang naik turun. Dan yang sangat disayangkan lagi, RS tidak memberikan pelayanan yang bagus. Kami orang tua tidak dihubungi oleh pihak RS untuk memberitahu kami tentang keadaan Kenzie. Tidak seperti RS yang sebelumnya, dokter menelepon kami setiap hari untuk memberi tahu perkembangan Kenzie.
Kenzie harus stop minum ASI untuk sementara waktu. Jadi selama tiga hari Kenzie minum susu formula. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah Kenzie mengalami breastmilk jaundice atau bukan. Sedih sih rasanya ga bisa ngasih ASI buat Kenzie walau cuma 3 hari. Tapi bakal lebih sedih lagi kalo liat mata Kenzie yang masih kuning. Setelah tiga hari, Kenzie harus mimi ASI lagi. Ada kepuasan batin saat menyusui Kenzie. Kulit kami bersentuhan, mata kami saling bertatapan, aaahhh betapa senangnya saya bisa menjadi seorang ibu yang meyusui anaknya.
Hari Sabtu 24 Maret 2012 kami kontrol lagi untuk mengetahui apakah Kenzie sudah sehat atau belum. Alhamdulillah dokter bilang Kenzie sudah sehat dan sudah tidak kuning lagi. Dokter juga sangat sangat menyarankan untuk memberi Kenzie ASI.
Mudah-mudahan ini terkahir kalinya Kenzie harus disinar. Mudah-mudahan bilirubin Kenzie sudah diangka normal. Amin.. 🙂

Continue Reading

Uncategorized

Breastmilk Jaundice (Sakit Kuning Karena ASI)

By on March 14, 2012
Ya.. Sudah 24 hari usia Kenzie. Tapi saya masih harus melihat matanya yang kuning. Memang badannya sudah tidak kuning, tapi matanya masih terlihat kuning. Sebenarnya sedih sekali saya ketika melihat matanya. Tapi begitu melihat senyumnya saat kami saling berpandangan membuat saya merasa bahagia. Kenzie selalu menghibur saya dengan senyumnya.
Hari Sabtu kemarin (10 Maret 2012), saya mengunjungi dokter anak untuk konsultasi mengenai keadaan Kenzie. Yang paling pertama saya tanyakan adalah tentang penyakit kuningnya. Dokter bilang keadaannya sudah baik. Kuning yang ada di daerah kepala sampai leher akan hilang dalam waktu 1 bulan. Oke, saya tenang karena dokter mengatakan hal itu. Selain itu, dokter bilang saya harus tetap memberikan ASI, tidak perlu tambah sufor. Malah saya diberitahu bagaimana caranya agar ASI lebih banyak.
Tapi, ketika saya sedang berduaan dengan Kenzie dan lagi-lagi ketika menatap matanya, saya merasa galau lagi. Apa benar keadaan Kenzie bener-benar sehat? Apa tidak terlalu lama Kenzie mengalami sakit kuning?
Saat-saat seperti ini saya membutuhkan orang-orang yang bisa mendukung saya secara psikis. Menyemangati saya, membuat hati saya tenang. Lalu teman saya menghubungi lewat BBM, dia menceritakan temannya ada yang mengalami hal yang sama seperti saya. Ia mengalami Breastmilk Jaundice. Bayinya mengalami kuning dan menurut cerita ASI nya tidak cocok untuk bayinya. Namun, dia berpikir “saya yakin Allah Swt tidak akan menciptakan ASI jika ASI berbahaya untuk bayi, maka saya bertekad terus memberikan ASI, dengan resiko harus bersabar melihat kuning pada bayinya selama 7 minggu“. Dan akhirnya, karena tekadnya yang kuat dengan menyusui bayinya setiap 2 jam sekali, bayinya sembuh dari sakit kuning.

Memang benar, Allah telah menciptakan ASI dengan sedemikian rupa kandungannya yang pasti akan menyehatkan bayi.Cerita itu tentu menjadi penyemangat saya. Saya harus bisa seperti dia. Tetap kuat melihat anak yang kuning dan tetap menyusuinya dengan ASI tentunya bukan sufor, walaupun Kenzie sudah minum sufor uuntuk beberapa waktu. 

Saya berpikir, apa mungkin saya mengalaim Breastmilk Jaundice? Mungkin. Lalu saya mencari tahu tentang hal tersebut. Saya menanyakan hal tersebut di twitter kepada @aimi_asi dan @ID_AyahASI . Lalu, saya diberi link website yang menjelaskan tentang Breastmilk Jaundice.

Berikut penjelasan mengenai Breastmilk Jaundice yang saya kutip dari :

@ID_AyahASI: Ada juga yang disebut dengan Breastmilk Jaundice,ini disebabkan karena bilirubin yg telah diolah susu terserap kembali oleh tubuh

@ID_AyahASI: Untuk mendiagnosa hal ini, bayi paling tidak sudah berusia satu minggu, bayi yg alami ini biasanya alami juga penyakit kuning fisiologis berlebihan

@ID_AyahASI: Bayi harus mengalami kenaikan berat badan yang baik, hanya dengan menyusu, buang air besarnya banyak dan sering, urinnya jernih, dan secara umum dalam keadaan baik

@ID_AyahASI: Breastmilk jaundice mengalami puncaknya pada hari ke 10-21, namun dapat berlanjut hingga dua sampai tiga bulan

@ID_AyahASI: Breastmilk jaundice merupakan sesuatu yang normal. Jarang, kalaupun pernah, yang menyebabkan menyusui harus dihentikan.

@ID_AyahASI: Sangat jarang dibutuhkan perawatan apapun, seperti fototerapi. Menyusui seharusnya tidak dihentikan “untuk menentukan diagnosis”

@ID_AyahASI: Jika bayi benar-benar dalam keadaan baik dengan menyusu saja, tak ada alasan apapun untuk menghentikan menyusui

@ID_AyahASI: Bayi yang TIDAK SERING MINUM ASI dapat mengalami gejala ini, maka penting sekali untuk sering-sering menyusui BBL (minimal 8-12x dalam 24 jam)

@ID_AyahASI: Itu kenapa disebut Breastmilk Jaundice karena umumnya disebabkan karena Bayi Kurang Minum ASI

@ID_AyahASI: Ketika bayi mendapatkan sedikit ASI, buang air besar cenderung menjadi sedikit dan jarang

@ID_AyahASI: Itu krn bilirubin di usus bayi terserap kembali ke dalam darah dan bukannya dibuang saat buang air besar

@ID_AyahASI: Sudah jelas, cara terbaik untuk mencegah “sakit kuning karena tidak mendapat cukup ASI” adalah dengan mulai menyusui dengan benar

@ID_AyahASI: pendekatan awal untuk bayi sakit kuning krn tidak cukup ASI bukan dgn hentikan bayi menyusu dan kemudian kasih Sufor

@ID_AyahASI: kalo sakit kuning banyak dari bayi kita yang biasanya di kasih perawatan sinar Fototerapi (lampu bilirubin)

@ID_AyahASI: Fototerapi menyebabkan bayi membutuhkan lebih banyak cairan. meningkatkan frekuensi menyusui biasanya dapat menutupi kebutuhan cairan ini

@ID_AyahASI: jika bayi dirasakan membutuhkan lebih banyak cairan,menyusui saja,lebih baik ASI perah daripada diberi susu formula

@ID_AyahASI: jadi pastikan cara menyusui sudah benar, jangan ragu untuk bertanya ke dokter atau Konselor Laktasi

http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&view=article&id=355:breastfeeding-and-jaundice-indo&catid=29:information-indonesian&Itemid=67

Ada suatu kondisi yang biasa disebut breastmilk jaundice (sakit kuning karena ASI).  Tak ada yang tahu pasti penyebab breastmilk jaundice. Untuk mendiagnosa hal ini, bayi paling tidak sudah berusia satu minggu, yang menarik adalah, banyak bayi yang mengalami breastmilk jaundice juga mengalami kuning fisiologis yang berlebihan. Bayi harus mengalami kenaikan berat badan yang baik, hanya dengan menyusu, buang air besarnya banyak dan sering, urinnya jernih, dan secara umum dalam keadaan baik. 

Breastmilk jaundice merupakan sesuatu yang normal. 

Bagaimanapun, menurut pengalaman kami, sebagian besar bayi yang disusui secara eksklusif yang benar-benar sehat dan mengalami kenaikan berat badan yang baik masih mengalami sakit kuning pada lima sampai enam minggu pertama dalam kehidupannya, atau bisa lebih. Sebenarnya, seharusnya pertanyaannya adalah apakah normal atau tidak jika tidak sakit kuning dan apakah jika tidak sakit kuning ada yang perlu kita khawatirkan? Jangan berhenti menyusui, bagi bayi yang mengalami “breastmilk” jaundice.   

Sudah jelas, cara terbaik untuk mencegah “sakit kuning karena tidak mendapat cukup ASI” adalah dengan mulai menyusui dengan benar

Jika bayi menyusu dengan baik, menyusu lebih sering sudah cukup untuk menurunkan kadar bilirubin, meskipun sebenarnya tak ada yang benar-benar perlu dilakukan. Jika bayi menyusu kurang baik, membantu bayi melekat dengan lebih baik dapat membuat bayi menyusu lebih efektif dan mendapatkan lebih banyak ASI. Menekan payudara agar bayi mendapatkan lebih banyak ASI juga dapat membantu.

Saat-saat seperti ini saya membutuhkan banyak informasi. Saya sering bertanya pada teman dan mencari informasi lewat internet. Untungnya informasi yang saya dapatkan bisa membuat saya kuat dan tetap memberikan ASI untuk Kenzie.
Memang butuh kesabaran dan kekuatan hati dalam menjalani ini. Tapi saya yakin, saya bisa menjalani ini semua. Kenzie pasti akan sehat sebentar lagi. Kuningnya akan hilang. Amin.
Agar ASI lancar dan banyak, faktor psikis kita harus sangat diperhatikan. Hati dan pikiran kita harus senang dan tenang. Dijamin ASI akan banyak dan lancar. Tanamkan dalam pikiran kita kalau ASI kita banyak dan sehat. 🙂
Terima kasih @aimi_asi , @ID_AyahASI yang telah memberikan informasi yang sangat bermanfaat dan Teh Astri yang selalu memberikan semangat untuk menghadapi semua ini dan selalu menyemangati untuk ngasi ASI buat Kenzie.. Terimas kasih.. 🙂

Continue Reading

Uncategorized

Bayi Kuning karena Bilirubin Tinggi

By on March 9, 2012
“Ibu, bayi ibu agak kuning. Bilirubinnya 11,7mg/dl jadi bayi ibu harus masuk ruang perinatologi untuk disinar biru agar bilirubinnya turun. Golongan darah ibu berbeda dengan golongan darah bayi, ibu O dan bayi A. Bayi harus dirawat di ruang perinatologi selama 24 jam sampai bilirubinnya turun sekitar 10mg/dl, jadi baru bisa keluar besok siang. Mudah-mudahan bisa pulang bareng dengan ibunya.”
Astaghfirullah, ada apa ini? Dokter spesialis anak ku visit untuk pertama kalinya dan memberitahukan berita itu. Bayi kuning? Bilirubin? Pernah saya mendengar istilah itu. Tapi saya belum paham apa maksud dari istilah tersebut. Harus dirawat? Nyeeess.. Air mata saya langsung menetes begitu saja. Bayi yang baru lahir 3 hari harus dirawat? Semua perasaan campur aduk menghantui saya.Saking paniknya, saya tidak menanyakan  apa penyebabnya, mengapa itu bisa terjadi, dan apa itu bilirubin.

Kenzie di Ruang Perinatologi

Jadi, kata dokter semua bayi bisa saja kuning karena bilirubinnya tinggi, namun karena perbedaan golongan darah anatar ibu dan anak, resiko bilirubin naik lebih cepat. Perbedaan golongan darah ini hanya terjadi pada ibu yang golongan darahnya O dan anaknya A atau B.
Kenzie masuk ruang perinatologi sebanyak 2 kali:
Pertama, pada hari ketiga setelah lahir (21 Februari 2012) , Kenzie masuk Perinatologi dan disinar biru single karena bilirubinnya 11,7mg/dl. Setelah 24 jam disinar, bilirubin turun menjadi 10,5mg/dl dan Kenzie diizinkan untuk pulang. 
Kedua, pada hari ketujuh setelah lahir (25 Februari 2012), Kenzie kontrol dan ternyata dokter menyatakan kalau Kenzie masih kuning dan mungkin kadar bilirubinnya  >12mg/dl. Akhirnya, Kenzie tes darah lagi. Astaghfirullah, ternyata hasilnya 19,5mg. Sedih rasanya. Saya sebagai ibu merasa sangat tidak berguna karena bilirubin Kenzie sampai tinggi seperti itu. Kenzie harus dirawat lagi di Perinatologi selama 4 hari dengan triple sinar biru. Kulit Kenzie sampai kering karena tiga lampu sinar biru. Karena sinar biru yang banyak akan mengakibatkan bayi merasa ngat haus, akhirnya Kenzie minum sufor untuk memperbanyak cairan yang masuk. Saya hanya bisa menggendong dan menyusuinya pada jam besuk saja, yaitu pukul 11.00-12.00 dan pukul 17.00-18.00. Rasa sakit pada perut setelah operasi caesar tidak saya pikirkan ketika harus bolak-balik ke rumah sakit, yang penting saya bisa memeluk Kenzie. Satu jam yang sangat-sangat berharga. Setelah hari keempat, Kenzie diizinkan pulang karena bilirubinnya sudah 9,7mg/dl. Alhamdulillah ya Allah.
Jadi, apa sih bilirubin itu? 
Dalam tubuh manusia, darah yang baru sedang dihasilkan sepanjang waktu dan darah yang lama sedang dimusnahkan. Salah satu produk darah yang dimusnahkan dikenal sebagai bilirubin.
Peningkatan bilirubin terjadi pada 2 sampai 4 hari setelah kelahiran.
Apa penyebab bilirubin meningkat?
  1. Organ hati yang belum sempurna, makan hati belum bisa memecah sel darah tersebut dengan sempurna.
  2. Perbedaan golongan darah ibu (O) dan anak (A atau B) yang dimana dalam darah ibu terdapat Anti A dan anti B yang malah menghancurkan sel darah marah bayi yang menyebabkan bilirubin meningkat.
  3. Kekurangan enzim G6PD (Glucosa 6 phospate Dehidrogenase) yang berfungsi memperkuat sel darah merah agar tidak mudah pecah
  4. Bayi dengan kelainan fungsi hati yang tidak dapat memecah sel darah merah
  5. Bayi yang kekurangan cairan karena pada hari pertama atau kedua setalah persalinan kadang ASI belum keluar
  6. Bayi lahir dengan bantuan alat vakum
Ciri-ciri bayi kuning:
  1. Lebih banyak tidur dan malas menyusu
  2. Bola mata bagian putih menguning
  3. Jika kulit ditekan maka akan terlihat warna kuning. 

Penanganan bayi kuning:

  1. Jika kadar bilirubin tidak terlalu tinggi, bayi cukup dijemur dengan sinar matahari selama 30 menit dan banyak menyusu
  2. Jika bilirubin sangat tinggi, maka bayi harus disinar biru.
Kenzie memang terlihat sangat nyenyak tidurnya dan malas menyusu. Sebagai ibu baru, saya tidak mengerti kalau ternyata hal tersebut merupakan akibat dari bilirubinnya yang tinggi. Saya menganggap Kenzie bayi yang anteng dan tidak rewel.
Sekarang, saya harus rajin menyusui Kenzie, minimal 2 jam sekali. Susah sekali membangunkan Kenzie yang tidurnya sangat nyenyak. Sampai sekarang Kenzie masih sering tidur dibandingkan terjaganya. Namun saya harus tetap membangunkannya dengan cukup susah.
Butuh perjuangan dan kekuatan hati melewati ini semua. Rasanya tidak tega ketika melihat bola matanya yang berwarna kuning. Untung ada suami yang selalu menguatkan saya melewati ini semua.
Doakan Kenzie ya semoga sehat selalu dan tidak kuning lagi.
Semoga tulisan saya ini dapat bermanfaat untuk yang membacanya. Jika ada bunda yang mengalami hal yang sama, silahkan sharing. Supaya ilmu dan pengetahuan kita bertambah. Terima kasih 🙂

Continue Reading

Uncategorized

Happy Birthday Nandrito and Happy 1st Wedding Anniversary

By on
Yipiiiee..
Tanggal 6 Maret kemarein merupakan hari penting dalam kehidupan keluarga kecil kami… Tanggal 6 Maret merupakan hari ulang tahun papi Nandrito dan hari pernikahan kami..
Alhamdulillah sekali tanggal 6 Maret kali ini, karena kado terindahnya adalah kehadiran Kenzie dalam kehidupan kami..

Selamat ulang tahun papi, 
Semoga papi selalu menjadi papi yang hebat buat mami dan Kenzie, semoga papi selalu mendapatkan apa yang papi cita-citakan, semoga papi sukses dalam segala hal.. Amin..
Selamat hari pernikahan,
Terima kasih telah menjadi suami yang baik.. Terima kasih selalu memberikan kasih sayang dan cinta untuk mami.. Terimas kasih selalu ada untuk mami.. Terima kasih karena membuat mami merasa beruntung menjadi istri papi dan merasa beruntung Allah memberikan suami yang luar biasa.
Semoga kami semua selalu diberikan kebahagiaan dunia akhirat, sukses dalam segala hal, dan selalu dalam keridhoan Allah..
Terima kasih ya Allah atas segala kebahagiaan dan rezeki yang telah Engkai berikan kepada kami..
Sun sayang dari mami dan Kenzie :*

Continue Reading

Uncategorized

Hello.. My Name is Kenzie Adla Kanandar

By on March 6, 2012
Alhamdulillah.. Akhirnya ada waktu nih buat update blog.. Saya mau cerita tentang kebahagiaan terbesar saya.. My baby boy was born.. Sebenernya proses lahiran dede ga terduga.. Bener-bener gak terduga.. 
Oh iya, kenalin dulu.. Nama anak laki-lakiku Kenzie Adla Kanandar.. Panggil saja Kenzie.. Kenzie berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya pemimpin yang bijaksana, Adla berasal dari bahasa Arab yang artinya adil. Sedangkan Kanandar, merupakan gabungan dari kata Eka yang artinya pertama dan Nandar yang diambil dari nama papi nya.. Jadi, kalau digabungin arti dari namanya adalah Putra pertama Nandar yang insya Allah nantinya bisa menjadi pemimpin yang bijaksana dan adil. Amin…

Kenzie Adla Kanandar

Sekarang, saya mau cerita nih tentang proses persalinan Kenzie.. Yuk disimak..
Jumat, 17 Februari 2012
Saya kontrol ke dokter.. Hasil kontrol menyatakan: jumlah air ketuban cukup, posisi plasenta bagus, berat bayi 3100gram, ukuran lingkar otak 5cm, dan usia kandungan sudah 36-37 minggu. Dokter bilang, dari hasil tersebut sudah cukup umur jika memang harus lahir.
Saya juga bertanya apakah wajar kalau saya sudah merasakan nyeri di bagian perut bawah. Dokter bilang kalau rasa nyeri itu merupakan kontraksi palsu. Saya sudah merasakan nyerinya sejak usia kandungan 36 minggu.
Dokter memberi tahu saya jika nanti terjadi pecah ketuban terlebih dahulu, selama perjalan ke rumah sakit, saya harus tiduran, tidak boleh duduk ataupun berdiri, untuk menghambat air ketuban yang keluar.
Sabtu, 18 Februari 2012
Hari sabtu merupakan jadwal senam hamil. Sebelum senam hamil saya mengikuti kursus prenatal terlebih dahulu. Setelah selesai saya mengikuti senam hamil. Pada saat senam hamil, bumil yang usia kandungannya sudah menginjak dia atas 37 minggu diajarkan cara mengejan. Karena saya belum di atas 37 minggu, saya hanya memerhatikannya saja.
Jam 22.49
Saya lagi tidur, perut bawah terasa nyeri. Saya merubah posisi tidur jadi miring ke kiri. Saya merasakan sesuatu yang agak berbeda. Mungkin feeling untuk melahirkan sudah terasa.  Saya mulai menghitung berapa lama rasa nyeri ini. Sekita 5 menit lebih nyerinya belum hilang. Lalu saya merubah posisi menjadi terlentang, tiba-tiba ada rasa “pluk” dari vagina saya. Saya merasa itu adalah air ketuban yang pecah. Saya langsung panik dan memberi tahu suami. Tidak berapa lama, langsung rembes air dari vagina. Satu kali, dua kali, dan tiga kali. Akhirnya saya benar-benar yakin kalau ini pecah ketuban.
Akhirnya saya dibawa ke rumah sakit. Kenapa ya, apa yang dokter bilang kejadian? Hehe.
Jam 23.30
Setelah sampai di rumah sakit, saya langsung masuk ruangan. Lalu diperiksa oleh bidan apa benar air tersebut merupakan air ketuban, dan ternyata memang benar air ketuban.
Kebetulan sekali dokter Budi Susetyo, dokter obgyn saya baru saja selalu melakukan tindakan SC. Jadi, saya langsung ditangani olehnya, Setelah melakukan pemerikasaan, dokter menyarankan saya untuk melakukan operasi SC karena air ketuban sudah rembes dan baru pembukaan 1.
Minggu, 19 Februari 2012
Jam 02.00
Setelah melakukan perundingan dengan suami dan keluarga, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan tindakan SC. Saya hanya berpikir melakukan yang terbaik untuk anak saya.
Jam 02.00 saya mulai masuk ruang operasi. Rasanya campur aduk. Sakit, sedih, takut, tapi juga senang karna saya akan resmi menjadi seorang ibu.
Jam 02.27
Akhirnyaaa saya resmi menjadi ibu. Anak laki-laki dengan berat 3140 gram dan panjang 48cm telah lahir melalui proses SC. Alhamdulillah.. Bahagia rasanya…
Pertama kali mendengar suara tangisnya membuat saya menangis. Apalagi saat dilakukan proses IMD. Pertama kalinya saya menatap wajah malaikat kecil yang selama 9 bulan telah saya kandung, yang selalu menemani saya, yang sering menendang perut saya.  Menatap wajahnya membuat hati saya meleleh.. 
Selanjutnya, saya dipindahkan ke ruang pemulihan. Saya berada disana selama 6 jam dan baru kemudian dipindahkan ke ruang perawatan.
Ketika bius mulai meghilang, rasa sakit mulai terasa. Perut rasanya sakiiiit sekali. Setelah 12 jam dari proses persalinan, saya harus belajar duduk. Perjuangan sekali rasanya untuk duduk saja. Tapi setelah saya duduk dan menggendong Kenzie, rasa sakit itu hilang. Subhanallah sekali..

Rabu, 22 Februari 2012
Setelah dirawat selama 4 hari, akhirnya saya diperbolehkan pulang. Begitulah pengalaman persalinan saya..
Saya akan bercerita lagi tentang pengalaman lainnya.
Terima kasih untuk suami, keluarga, dan Dr. Budi Susetyo, S.Pog yang telah berperan dan membantu dalam proses persalinan ini.
Oh iya, rasanya jadi seorang ibu itu luar biasa sekali. Terima kasih Allah telah memberikan rezeki yang luar biasa.. 🙂

Continue Reading